Ditujukan untuk mba
Navita Kristi Astuti
Semoga terpakai, maaf
kalau terlalu panjang. Kalaupun tidak terpakai, sekalian mejeng saja di sini
dan berbagi dengan ibu2 yang lain :)
Sebelum hamil, aku
mungkin salah satu perempuan yang salah kaprah tentang apa itu ‘ngidam’ pada
ibu hamil. Yang aku tahu bila seorang ibu hamil mengalami ‘ngidam’ itu artinya
si ibu sedang menginginkan sesuatu dan biasanya harus segera dikabulkan,
walaupun permintaannya terkadang tidak masuk akal dan waktunya tidak tepat.
Misalnya, ingin makan jambu monyet di tengah malam. Mau beli dimana coba? Belum
lagi kalau lagi tidak musim? Haduh, sang suami pasti kalang kabut mencari. Tapi
ternyata, mengidam tidak sesederhana itu. Saat tahu aku sedang hamil, aku mulai
mencari-cari informasi tentang apa saja yang dialami oleh seorang ibu di masa
kehamilannya. Dari situ aku tahu bahwa mengidam tidak sesederhana itu.
Ternyata, cakupan mengidam itu sangat luas. Sederhananya, mengidam itu adalah
masa dimana seorang ibu hamil mulai mengalami perubahan—yang biasanya tidak
mengenakkan—yang biasa dialami di trimester pertamanya. Bisa mual, muntah,
pusing jika mencium bau sesuatu atau gejala-gejala lain yang. Dan aku termasuk
salah seorang perempuan yang mengalami masa mengidam yang cukup mengganggu.
Saat pertama kali
mengetahui aku hamil, tentunya senangnya bukan kepalang. Apalagi setelah tahu
aku mengandung bayi kembar. Saat itu suamiku tinggal di depok dan aku tinggal
di bandung. Kehamilanku awalnya lancar-lancar saja. Menjelang usia kehamilan
dua bulan, indera penciumanku mulai sensitif dengan bau-bauan, yang padahal
sebelum hamil tidak menjadi masalah bagiku, seperti bau bawang goreng. Aku
mulai sering merasa mual, mulai sulit makan. Kucoba menikmati pengalaman itu.
Lagipula yang kubaca, jika ibu hamil mengalami mual muntah, itu artinya hormon
kehamilannya bagus. Jadi, aku tidak terlalu merasa cemas. Aku pikir hal itu
tidak akan berlangsung lama. Tapi lambat laun, aku semakin merasa tersiksa
melalui masa kehamilan. Lama-lama aku makin sulit makan, gampang mual, minum
air putih pun muntah. Melihat nasi saja aku sudah bergidik. Memasuki bulan
ketiga, pilihan menu yang bisa kumakan dan kuminum mulai menyempit. Aku hanya
bisa makan buah semangka. Tok, itu saja yang bisa kumakan hingga memasuki bulan
keempat. Saat-saat seperti itu aku jadi berpikir, “Apapun akan kumakan jika aku
tidak merasa mual menciumnya, daripada tidak makan sama sekali.” Pernah suatu
saat aku melihat ada liputan tentang keripik singkong balado khas kota Padang
dan tiba-tiba aku mengingkannya. Dua hari kemudian kiriman keripik datang dan
kumakan dengan lahap karena dengan memakannya aku tidak merasakan mual. Keripik
aku makan dengan lahap walau pada akhirnya sama saja seperti makanan yang lain…
berakhir di kamar mandi setelah aku muntahkan tidak lama kemudian. Duh,
frustasi rasanya. Nafsu untuk makan ada tapi tubuh tidak mendukung. Apalagi sebelum
hamil aku termasuk orang yang tidak berpantang-pantang dalam hal makan. Apa
saja kumakan asal aku suka. Jam 10 malam pun jika aku lapar aku akan makan.
Puncaknya adalah saat
aku menjalani chek up bulanan, yang biasa kujalani sendiri karena suamiku bekerja di
luar kota. Seperti biasa, jumat pagi itu aku berencana mengunjungi dokter
kandunganku di salah satu rumah bersalin di bilangan Margahayu Bandung dengan
mengendarai motorku sendiri, karena setelah chek up, aku akan langsung pergi bekerja dan pergi ke
kantorku yang berada di daerah Buah Batu Bandung. Oh iya, selama hamil, aku
masih mengendarai motorku sendiri bila akan berangkat ke kantor. Logikaku,
daripada naik angkot yang suka tiba-tiba berhenti atau tidak kita tahu kapan
akan melewati jalan berlubang, lebih baik aku mengendarai motorku sendiri
karena aku bisa mengantisipasi jalan yang jelek dengan berjalan perlahan atau
duduk setengah berdiri saat melewati polisi tidur. Walau kadang aku merasa
pusing di jalan, tapi masih bisa kutahan. Sebelum memasuki ruang praktek,
seperti biasa suster memeriksa tensi dan berat badanku. Hasilnya? Tensiku
normal walau sudah memasuki rendah, dan berat badanku turun. Aku lupa berapa,
yang pasti jika dijumlahkan dengan berat badan yang turun saat kehamilan umur tiga
bulan, berat badanku turun hingga 8 kg. Ya ampun, banyak banget! Setelah dokter memeriksaku, dia berkata aku
harus chek lab untuk memastikan apakah aku harus diopname atau tidak.Alamak, aku harus diopname? seumur-umur aku belum
pernah diopname atau dirawat di rumah sakit. Ya sudah. Aku pun langsung pergi
ke lab yang ada dekat rumah bersalin dan menunggu hasilnya. Setelah itu, aku
kembali menemui dokter, dan setelah melihat hasil lab dia mengatakan aku harus
diopname saat itu juga karena aku kekurangan nutrisi dan ada benda asing yang
terlihat dari tes urinku. Saat itu juga aku diinfus dan harus bedrest selama
dua hari. Semua administrasi aku urus sendiri: mulai dari memilih ruangan,
mengisi formulir, tidak lupa memastikan motorku sudah aman di tempat parkir
karena akan berada di sana untuk dua hari ke depan.
Tadinya aku sangat
menolak untuk diopname, mengingat biayanya yang tidak sedikit. Tapi mau tak mau
aku menuruti saran dokter karena aku berpikir ini baik untuk bayi kembar yang
ada dalam kandunganku. Sepertinya merekalah alasan mengapa aku mengalami masa
mengidam yang cukup sulit. Tapi tak mengapa. Saat kupikir aku mengalami masa
kehamilan yang sulit, aku berusaha mengingat bahwa ada ibu hamil yang mengalami
masa kehamilan yang lebih parah dariku, harus bedrest bahkan selama beberapa
bulan karena kandungannya yang lemah misalnya. Dibandingkan dengan perjuangan
mereka, perjuanganku mendapatkan bayi tidak ada artinya. Itu yang membesarkan
hatiku. Dan ternyata, selama diopname, aku bisa makan dengan lahap. Apa karena
makanannya yang enak atau karena aku diberi vitamin yang bisa mengurangi mual
muntahku ya? Yang pasti semua makanan yang disediakan rumah sakit aku makan. Ya
iyalah, sayang dong, udah bayar mahal gitu lho :)